Showing posts with label Asuhan Keperawatan. Show all posts
Showing posts with label Asuhan Keperawatan. Show all posts

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Ventilasi Mekanik

| | 4 comments


Pengkajian

Perawat mempunyai peranan penting mengkaji status pasien dan fungsi ventilator. Dalam mengkaji klien, perawat mengevaluasi hal-hal berikut :
  1. Tanda-tanda vital
  2. Bukti adanya hipoksia
  3. Frekuensi dan pola pernafasan
  4. Bunyi nafas
  5. Status neurologis
  6. Volume tidal, ventilasi semenit, kapasitas vital kuat
  7. Kebutuhan pengisapan
  8. Upaya ventilasi spontan klien
  9. Status nutrisi
  10. Status psikologis
1. Pengkajian Kardiovaskuler
  • Perubahan dalam curah jantung dapat terjadi sebagai akibat ventilator tekanan positif. Tekanan intratoraks positif selama inspirasi menekan jantung dan pembuluh darah besar dengan demikian mengurangi arus balik vena dan curah jantung. Tekanan positif yang berlebihan dapat menyebabkan pneumotoraks spontan akibat trauma pada alveoli. Kondisi ini dapat cepat berkembang menjadi pneumotoraks tension, yang lebih jauh lagi mengganggu arus balik vena, curah jantung dan tekanan darah. Untuk mengevaluasi fungsi jantung perawat terutama harus memperhatikan tanda dan gejala hipoksemia dan hipoksia (gelisah,gugup, kelam fakir, takikardi, takipnoe, pucat yang berkembang menjadi sianosis, berkeringat dan penurunan haluaran urin).

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan CHF

| | 0 comments


Pengkajian

Gagal serambi kiri/kanan dari jantung mengakibtkan ketidakmampuan memberikan keluaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan menyebabkan terjadinya kongesti pulmonal dan sistemik. Karenanya diagnostik dan teraupetik berlnjut . GJK selanjutnya dihubungkan dengan morbiditas dan mortalitas.

1. Aktivitas/istirahat
  • Gejala: Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari, insomnia, nyeri dada dengan aktivitas, dispnea pada saat istirahat.
  • Tanda: Gelisah, perubahan status mental misalnya: letargi, tanda vital berubah pad aktivitas.
2. Sirkulasi
  • Gejala: Riwayat HT, IM baru/akut, episode GJK sebelumnya, penyakit jantung , bedah jantung , endokarditis, anemia, syok septic, bengkak pada kaki, telapak kaki, abdomen.
  • Tanda:TD; mungkin rendah (gagal pemompaan), Tekanan Nadi ; mungkin sempit, Irama Jantung; Disritmia, Frekuensi jantung; Takikardia, Nadi apical ; PMI mungkin menyebar dan merubah posisi secara inferior ke kiri, Bunyi jantung ; S3 (gallop) adalah diagnostik, S4 dapat, terjadi, S1 dan S2 mungkin melemah, Murmur sistolik dan diastolic, Warna; kebiruan, pucat abu-abu, sianotik, Punggung kuku; pucat atau sianotik dengan pengisian, kapiler lambat, Hepar ; pembesaran/dapat teraba, Bunyi napas; krekels, ronkhi, Edema; mungkin dependen, umum atau pitting khususnya pada ekstremitas

Readmore..

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Sepsis

| | 0 comments


Pengkajian

1. Identitas Klien

2. Riwayat Penyakit
  • Keluhan utama : Klien datang dengan tubuh berwarna kuning, letargi, kejang, tak mau menghisap, lemah.
  • Riwayat penyakit sekarang : Pada permulaannya tidak jelas, lalu ikterik pada hari kedua , tapi kejadian ikterik ini berlangsung lebih dari 3 mg, disertai dengan letargi, hilangnya reflek rooting, kekakuan pada leher, tonus otot meningkat serta asfiksia atau hipoksia.
  • Riwayat penyakit dahulu : Ibu klien mempunyai kelainan hepar atau kerusakan hepar karena obstruksi.
  • Riwayat penyakit keluarga : Orang tua atau keluarga mempunyai riwayat penyakit yang berhubungan dengan hepar atau dengan darah.
3. Riwayat Tumbuh Kembang
  • Riwayat prenatal : Anamnesis mengenai riwayat inkompatibilitas darah, riwayat transfusi tukar atau terapi sinar pada bayi sebelumnya, kehamilan dengan komplikasi, obat yang diberikanpd ibu selama hamil / persalinan, persalinan dgntindakan / komplikasi.
  • Riwayat neonatal : Secara klinis ikterus pada neonatal dapat dilihatsegera setelah lahir atau beberapa hari kemudian. Ikterus yang tampakpun ssngat tergantung kepada penyebeb ikterus itu sendiri. Bayi menderita sindrom gawat nafas, sindrom crigler-najjar, hepatitis neonatal, stenosis pilorus, hiperparatiroidisme, infeksi pasca natal dan lain-lain.
4. Riwayat Imunisasi

5. Pemeriksaan Fisik

Inspeksi
  • Kulit kekuningan
  • Sulit bernafas
  • Letargi
  • Kejang
  • Mata berputar
Palpasi
  • Tonus otot meningkat
  • Leher kaku
Auskultasi

Perkusi

6.Studi Diagnosis
  • Pemeriksaan biliribin direct dan indirect, golongan darah ibu dan bayi, Ht, jumlah retikulosit, fungsi hati dan tes thyroid sesuai indikasi.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Bayi dengan Asfiksia

| | 0 comments


Pengkajian

1. Sirkulasi
  • Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
  • Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
  • Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
  • Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
2. Eliminasi
  • Dapat berkemih saat lahir.
3. Makanan/ cairan
  • Berat badan : 2500-4000 gram
  • Panjang badan : 44-45 cm
  • Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
4. Neurosensori
  • Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
  • Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding, edema, hematoma).
  • Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang)
5. Pernafasan
  • Skor APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
  • Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
  • Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
6. Keamanan
  • Suhu rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan distribusi tergantung pada usia gestasi).
  • Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin, petekie pada kepala/ wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata, antara alis mata, atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong) dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal)

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Tetanus

| | 0 comments


Pengkajian

1. Pengkajian umum
  • Riwayat penyakit sekarang : adanya luka parah dan luka bakar dan imunisasi yang tidak adekuat.
2. Pengkajian khusus
  • System pernafasan : dyspnea asfiksia dan sianosis akibat kontraksi oto pernafasan.
  • System cardiovascular : disritmia, takicardi, hipertensi dan perdarahan, suhu tubuh awalnya 38 - 40°Catau febris sampai ke terminal 43 - 44°C.
  • System neurologis : irritability (awal), kelemahan, konvulsi (akhir), kelumpuhan satu atau beberapa saraf otak.
  • System perkemihan : retensi urine (distensi kandung kemih dan urine output tidak ada/oliguria)
  • System pencernaan : konstipasi akibat tidak ada pergerakan usus.
  • System integument dan muskuloskletal : nyeri kesemutan pada tempat luka, berkeringatan (hiperhidrasi), pada awalnya didahului trismus, spasme otot muka dengan peningkatan kontraksi alis mata, risus sardonicus, otot kaku dan kesulitan menelan.
  • Apabila hal ini berlanjut terus maka akan terjadi status konvulsi dan kejang umum. ( Marlyn Doengoes, Nursing care Plan, 1993)
Diagnosa Keperawatan
  1. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spasme otot pernafasan.
  2. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan
  3. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efek toksin ( bakterimia )
  4. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kekakuan otot pengunyah
  5. Hubungan interpersonal terganggu berhubungan dengan kesulitan bicara
  6. Gangguan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kondisi lemah dan sering kejang
  7. Resiko terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang kurang dan oliguria
  8. Resiko terjadi cedera berhubungan dengan sering kejang
  9. Kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit tetanus dan penanggulangannya berhubungan dengan kurangnya informasi
  10. Kurangnya kebutuhan istirahat berhubungan dengan sering kejang

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Thalasemia

| | 2 comments


Pengkajian

1. Asal Keturunan / Kewarganegaraan
  • Thalasemia banyak dijumpai pada bangsa di sekitar laut Tengah (Mediteranial) seperti Turki, Yunani, dll. Di Indonesia sendiri, thalasemia cukup banyak dijumpai pada anak, bahkan merupakan penyakit darah yang paling banyak diderita.
2. Umur
  • Pada penderita thalasemia mayor yang gejala klinisnya jelas, gejala telah terlihat sejak anak berumur kurang dari 1 tahun, sedangkan pada thalasemia minor biasanya anak akan dibawa ke RS setelah usia 4 tahun.
3. Riwayat Kesehatan Anak
  • Anak cenderung mudah terkena infeksi saluran pernapasan atas atau infeksi lainnya. Ini dikarenakan rendahnya Hb yang berfungsi sebagai alat transport.
4. Pertumbuhan dan Perkembangan
  • Seirng didapatkan data adanya kecenderungan gangguan terhadap tumbang sejak masih bayi. Terutama untuk thalasemia mayor, pertumbuhan fisik anak, adalah kecil untuk umurnya dan adanya keterlambatan dalam kematangan seksual, seperti tidak ada pertumbuhan ramput pupis dan ketiak, kecerdasan anak juga mengalami penurunan. Namun pada jenis thalasemia minor, sering terlihat pertumbuhan dan perkembangan anak normal.
5. Pola Makan
  • Terjadi anoreksia sehingga anak sering susah makan, sehingga BB rendah dan tidak sesuai usia.
6. Pola Aktivitas
  • Anak terlihat lemah dan tidak selincah anak seusianya. Anak lebih banyak tidur/istirahat karena anak mudah lelah.
7. Riwayat Kesehatan Keluarga
  • Thalasemia merupakan penyakit kongenital, jadi perlu diperiksa apakah orang tua juga mempunyai gen thalasemia. Jika iya, maka anak beresiko terkena talasemia mayor.
8. Riwayat Ibu Saat Hamil (Ante natal Core – ANC)
  • Selama masa kehamilan, hendaknya perlu dikaji secara mendalam adanya faktor resiko talasemia. Apabila diduga ada faktor resiko, maka ibu perlu diberitahukan resiko yang mungkin sering dialami oleh anak setelah lahir.
9. Data Keadaan Fisik Anak Thalasemia
  • KU = lemah dan kurang bergairah, tidak selincah anak lain yang seusia.
  • Kepala dan bentuk muka. Anak yang belum mendapatkan pengobatan mempunyai bentuk khas, yaitu kepala membesar dan muka mongoloid (hidung pesek tanpa pangkal hidung), jarak mata lebar, tulang dahi terlihat lebar.
  • Mata dan konjungtiva pucat dan kekuningan
  • Mulut dan bibir terlihat kehitaman
  • Dada, Pada inspeksi terlihat dada kiri menonjol karena adanya pembesaran jantung dan disebabkan oleh anemia kronik.
  • Perut, Terlihat pucat, dipalpasi ada pembesaran limpa dan hati (hepatospek nomegali).
  • Pertumbuhan fisiknya lebih kecil daripada normal sesuai usia, BB di bawah normal
  • Pertumbuhan organ seks sekunder untuk anak pada usia pubertas tidak tercapai dengan baik. Misal tidak tumbuh rambut ketiak, pubis ataupun kumis bahkan mungkin anak tidak dapat mencapai tapa odolense karena adanya anemia kronik.
  • Kulit, Warna kulit pucat kekuningan, jika anak telah sering mendapat transfusi warna kulit akan menjadi kelabu seperti besi. Hal ini terjadi karena adanya penumpukan zat besi dalam jaringan kulit (hemosiderosis).

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan DBD

| | 0 comments


Pengkajian

1. Identitas
  • DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa (Effendy, 1995).
2. Keluhan Utama
  • Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
3. Riwayat penyakit sekarang
  • Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
4. Riwayat penyakit terdahulu
  • Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.
5. Riwayat penyakit keluarga
  • Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.
6. Riwayat Kesehatan Lingkungan
  • Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan.
7. Riwayat Tumbuh Kembang

Pengkajian Per Sistem

1. Sistem Pernapasan
  • Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.
2. Sistem Persyarafan
  • Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi DSS
3. Sistem Cardiovaskuler
  • Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
4. Sistem Pencernaan
  • Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena.
5. Sistem perkemihan
  • Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna merah.
6. Sistem Integumen.
  • Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
Diagnosa Keperawatan
  1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
  2. Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
  3. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
  4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
  5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah (trombositopeni).
  6. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi anak.
  7. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur, dan perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat informasi.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Malaria

| | 1 comments


Pengkajian

1. Aktivitas/ istirahat
  • Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum
  • Tanda : Takikardi, Kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
2. Sirkulasi
  • Tanda : Tekanan darah normal atau sedikit menurun. Denyut perifer kuat dan cepat (fase demam) Kulit hangat, diuresis (diaphoresis ) karena vasodilatasi. Pucat dan lembab (vaso kontriksi), hipovolemia,penurunan aliran darah.
3. Eliminasi
  • Gejela : Diare atau konstipasi; penurunan haluaran urine
  • Tanda : Distensi abdomen
4. Makanan dan cairan
  • Gejala : Anoreksia mual dan muntah
  • Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan Penurunan masa otot. Penurunan haluaran urine, kosentrasi urine.
5. Neuro sensori
  • Gejala : Sakit kepala, pusing dan pingsan.
  • Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientas deliriu atau koma.
6. Pernapasan.
  • Tanda : Tackipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan .
  • Gejala : Napas pendek pada istirahat dan aktivitas
7. Penyuluhan/ pembelajaran
  • Gejala : Masalah kesehatan kronis, misalnya hati, ginjal, keracunan alkohol, riwayat splenektomi, baru saja menjalani operasi/ prosedur invasif, luka traumatik.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Vertigo

| | 0 comments


Pengkajian

1. Aktivitas / Istirahat
  • Letih, lemah, malaise
  • Keterbatasan gerak
  • Ketegangan mata, kesulitan membaca
  • Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala
  • Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.
2. Sirkulasi
  • Riwayat hypertensi
  • Denyutan vaskuler, misal daerah temporal
  • Pucat, wajah tampak kemerahan.
3. Integritas Ego
  • Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
  • Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
  • Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
  • Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
4. Makanan dan cairan
  • Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).
  • Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
  • Penurunan berat badan
5. Neurosensoris
  • Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
  • Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
  • Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
  • Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
  • Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
  • Perubahan pada pola bicara/pola pikir
  • Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
  • Penurunan refleks tendon dalam
  • Papiledema.
6. Nyeri/ kenyamanan
  • Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
  • Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah
  • Fokus menyempit
  • Fokus pada diri sndiri
  • Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
  • Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
7. Keamanan
  • Riwayat alergi atau reaksi alergi
  • Demam (sakit kepala)
  • Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
  • Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus)
8. Interaksi sosial
  • Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit.
9. Penyuluhan / pembelajaran
  • Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
  • Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone, menopause.
Diagnosa Keperawatan
  1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
  2. Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
  3. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Fraktur

| | 0 comments



Pengkajian

1. Sirkulasi
  • Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
2. Integritas ego
  • Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
  • Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
3. Makanan / cairan
  • Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
4. Pernapasan
  • Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
5. Keamanan
  • Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
  • Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
6. Penyuluhan / Pembelajaran
  • Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).
Diagnosa Keperawatan
  1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas
  2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak edekuatan oksigenasi, ansietas, dan gangguan pola tidur.
  3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik.
  4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.
  5. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan.
  6. Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Syndrom Steven Johnson

| | 0 comments


Pengkajian

1. Biodata Pasien :
  • Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan nomor register.
2. Biodata Penaggung Jawab :
  • Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat.
3. Riwayat Kesahatan Pasien :
  • Riwayat Kesehatan Dahulu
  • Riwayat Kesehatan Sekarang
  • Riwayat Kesehatan Keluarga
4. Kebiasaan Sehari-hari :
  • Makan dan Minum
  • Eliminasi : BAK dan BAB
  • Personal Hygiene
5. Pemeriksaan Fisik / Head To Toe

Diagnosa Keperawatan
  1. Gangguan integritas kulit b.d. inflamasi dermal dan epidermal
  2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. kesulitan menelan
  3. Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d. inflamasi pada kulit
  4. Gangguan intoleransi aktivitas b.d. kelemahan fisik
  5. Gangguan Persepsi sensori: kurang penglihatan b.d konjungtifitis

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Cholelotiasis / Batu Empedu

| | 0 comments


Pengkajian

1. Aktivitas dan istirahat :
  • subyektif : kelemahan
  • Obyektif : kelelahan
2. Sirkulasi :
  • Obyektif : Takikardia, Diaphoresis
3. Eliminasi :
  • Subektif : Perubahan pada warna urine dan feces
  • Obyektif : Distensi abdomen, teraba massa di abdomen atas/quadran kanan atas, urine pekat.
4. Makan / minum (cairan) :

a. Subyektif : Anoreksia, Nausea/vomit.
  • Tidak ada toleransi makanan lunak dan mengandung gas.
  • Regurgitasi ulang, eruption, flatunasi.
  • Rasa seperti terbakar pada epigastrik (heart burn).
  • Ada peristaltik, kembung dan dyspepsia.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan BPH

| | 0 comments


Pengkajian

1. Data subyektif :
  • Pasien mengeluh sakit pada luka insisi.
  • Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.
  • Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan.
  • Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.
2. Data Obyektif :
  • Terdapat luka insisi
  • Takikardi
  • Gelisah
  • Tekanan darah meningkat
  • Ekspresi wajah ketakutan
  • Terpasang kateter
Diagnosa Keperawatan
  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter
  2. Kurang pengetahuan : tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi
  3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan
Intervensi Keperawatan

1. Diagnosa Keperawatan 1 : Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter

Tujuan :
  • Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.
Kriteria hasil :
  • Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang.
  • Pasien dapat beristirahat dengan tenang.
Intervensi :
  • Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 - 10)
  • Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.
  • Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)
  • Beri ompres hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah.
  • Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)
  • Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi
  • Lakukan perawatan aseptik terapeutik
  • Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Angina Pektoris

| | 0 comments


Pengkajian

1. Biodata Pasien : Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan nomor register.

2. Biodata Penaggung Jawab : Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat.

3. Riwayat Kesahatan Pasien :
  • Riwayat Kesehatan Dahulu
  • Riwayat Kesehatan Sekarang
  • Riwayat Kesehatan Keluarga
4. Kebiasaan Sehari-hari :
  • Makan dan Minum
  • Eliminasi : BAK dan BAB
  • Personal Hygiene
5. Pemeriksaan Fisik / Head To Toe

Diagnosa Keperawatan
  1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
  2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
  3. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
  4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard

Intervensi :
  • Kaji gambaran dan faktor-faktor yang memperburuk nyeri.
  • Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina (24-30 jam pertama) dengan posisi semi fowler.
  • Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan angina.
  • Ciptakanlingkunan yang tenang, batasi pengunjung bila perlu.
  • Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan.
  • Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.
  • Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.
  • Kolaborasi pengobatan.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Hepatitis

| | 1 comments


Pengkajian

1. Keluhan Utama
  • Penderita datang untuk berobat dengan keluhan tiba-tiba tidak nafsu makan, malaise, demam (lebih sering pada HVA). Rasa pegal linu dan sakit kepala pada HVB, dan hilang daya rasa lokal untuk perokok.
2. Pengkajian Kesehatan

a. Aktivitas
  • Kelemahan
  • Kelelahan
  • Malaise
b. Sirkulasi
  • Bradikardi (hiperbilirubin berat)
  • Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa
c. Eliminasi
  • Urine gelap
  • Diare feses warna tanah liat
d. Makanan dan Cairan
  • Anoreksia
  • Berat badan menurun
  • Mual dan muntah
  • Peningkatan oedema
  • Asites
e. Neurosensori
  • Peka terhadap rangsang
  • Cenderung tidur
  • Letargi
  • Asteriksis
f. Nyeri / Kenyamanan
  • Kram abdomen
  • Nyeri tekan pada kuadran kanan
  • Mialgia
  • Atralgia
  • Sakit kepala
  • Gatal (pruritus)
g. Keamanan
  • Demam
  • Urtikaria
  • Lesi makulopopuler
  • Eritema
  • Splenomegali
  • Pembesaran nodus servikal posterior
h. Seksualitas
  • Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Vesikolithiasis

| | 0 comments


Diagnosa Keperawatan
  1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek anestesi
  2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi pernafasan akibat efek anestesi
  3. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan penekanan saraf tepi akibat insisi
  4. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah
  5. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan perdarahan akibat insisi.
  6. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi luka akibat operasi
  7. Resiko tinggi gangguan integritas kulit berhubungan dengan drainase luka
Intervensi Keperawatan

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek anestesi

Tujuan :
  • Tidak terjadi gangguan pernafasan
Kriteria Hasil :
  • Tidak tersedak, Sekret tidak menumpuk di jalan nafas dan tidak ditemukan tanda cyanosis
Intervensi :
  • Kaji pola nafas klien.
  • Kaji perubahan tanda vital secara drastis.
  • Kaji adanya sianosis.
  • Bersihkan sekret dijalan nafas.
  • Ciptakan lingkungan yang nyaman.
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi pernafasan akibat efek anestesi.

Tujuan :
  • Pola nafas menjadi normal (vesikuler).
Kriteria Hasil :
  • Pola nafas efektif, bebas dari sianosis atau tanda-tanda hipoksia.
Intervensi :
  • Pertahankan jalan nafas dengan memiringkan kepala, hiperekstensi rahang, aliran udara faringeal oral.
  • Observasi frekuensi dan kedalaman pernafasan.
  • Posisikan klien dengan nyaman.
  • Observasi pengembalian fungsi otot pernafasan.
  • Lakukan pengisapan lendir jika diperlukan.
  • Berikan 0ksigen jika diperlukan.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Aritmia

| | 0 comments


Pengkajian

1. Riwayat penyakit

2. Faktor resiko keluarga contoh penyakit jantung, stroke, hipertensi.

3. Riwayat IM sebelumnya (disritmia), kardiomiopati, GJK, penyakit katup jantung, hipertensi.

4. Penggunaan obat digitalis, quinidin dan obat anti aritmia lainnya kemungkinan untuk terjadinya intoksikasi.

5. Kondisi psikososial

6. Pemeriksaan Fisik
  • Aktivitas : kelelahan umum
  • Sirkulasi : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna dan kelembaban berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menruun bila curah jantung menurun berat.
  • Integritas ego : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah, gelisah, menangis.
  • Makanan/cairan : hilang nafsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan, mual muntah, peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit.
  • Neurosensori : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
  • Nyeri/ketidaknyamanan : nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah.
  • Pernafasan : penyakit paru kronis, nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
  • Keamanan : demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan.
Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan konduksi elektrikal, penurunan kontraktilitas miokardia.

Kriteria hasil :
  • Mempertahankan/meningkatkan curah jantung adekuat yang dibuktikan oleh TD/nadi dalam rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi teraba sama, status mental biasa.
  • Menunjukkan penurunan frekuensi/tak adanya disritmia
  • Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan kerja miokardia.
Intervensi :
  • Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan, amplitudo dan simetris.
  • Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra, penurunan nadi.
  • Pantau tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung/perfusi jaringan.
  • Tentukan tipe disritmia dan catat irama : takikardi; bradikardi; disritmia atrial; disritmia ventrikel; blok jantung.
  • Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktivitas selama fase akut.
  • Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres misal relaksasi nafas dalam, bimbingan imajinasi.
  • Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas dan faktor penghilang/pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal contoh wajah mengkerut, menangis, perubahan TD.
  • Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi.
  • Kolaborasi : Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit
  • Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
  • Berikan obat sesuai indikasi : kalium, antidisritmi
  • Siapkan untuk bantu kardioversi elektif
  • Bantu pemasangan/mempertahankan fungsi pacu jantung
  • Masukkan/pertahankan masukan IV
  • Siapkan untuk prosedur diagnostik invasif
  • Siapkan untuk pemasangan otomatik kardioverter atau defibrilator

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Reumatoid Artritis

| | 0 comments


Pengkajian

1. Aktivitas/ istirahat
  • Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan.
  • Tanda : Malaise. Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.
2. Kardiovaskuler
  • Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
3. Integritas ego
  • Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan, Keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ), Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).
4. Makanan/ cairan
  • Gejala ; Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat: mual, anoreksia, Kesulitan untuk mengunyah
  • Tanda : Penurunan berat badan, Kekeringan pada membran mukosa.
5. Hygiene
  • Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Ketergantungan
6. Neurosensori
  • Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan. Pembengkakan sendi simetris
7. Nyeri/ kenyamanan
  • Gejala : Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi ).
8. Keamanan
  • Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
9. Interaksi sosial
  • Gejala : Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran; isolasi.
Diagnosa Keperawatan
  1. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
  2. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal, Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan GGK

| | 1 comments


Pengkajian

1. Aktifitas /istirahat
Gejala:
  • kelelahan ekstrem, kelemahan malaise
  • Gangguan tidur (insomnis/gelisah atau somnolen)
Tanda:
  • Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
2. Sirkulasi
Gejala:
  • Riwayat hipertensi lama atau berat
  • Palpitasi, nyeri dada (angina)
Tanda:
  • Hipertensi, nadi kuat, edema jaringan umum dan piting pada kaki, telapak tangan
  • Disritmia jantung
  • Nadi lemahhalus, hipotensi ortostatik
  • Friction rub perikardial
  • Pucat pada kulit
  • Kecenderungan perdarahan

Readmore..

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Atresiaani

| | 0 comments


Diagnosa Keperawatan
  1. Gangguan eliminasi BAK b.d Dysuria
  2. Gangguan rasa nyaman b.d vistel rektovaginal, Dysuria
  3. Resti infeksi b.d feses masuk ke uretra, mikroorganisme masuk saluran kemih
  4. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual, muntah, anoreksia
  5. Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d trauma jaringan post operasi
  6. Resti infeksi b.d perawatan tidak adekuat, trauma jaringan post operasi
  7. Resti kerusakan integritas kulit b.d perubahan pola defekasi, pengeluaran tidak terkontrol

Readmore..
 
© Copyright 2010. yoedhasflyingdutchman . All rights reserved | yoedhasflyingdutchman is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com