Keropos Tulang Ternyata Bisa Menyerang Kaum Muda

| | 0 comments


Bila anda tergolong muda dan dalam usia produktif, dianjurkan perbanyak konsumsi kalsium dan perbaikan gizi. Karena, jika tidak, anda kemungkinan akan menjadi sasaran empuk penyakit keropos tulang yang tidak pandang usia.

Sebelumnya, para pakar kesehatan memperkirakan penyakit keropos tulang (osteoporosis) hanya menyerang manusia lanjut usia (lansia) 50 tahun ke atas. Tapi. kenyataannya, sudah menghantam orang berusia produktif sejak umur 28 tahun. Kenyataan tersebut tentunya sangat mengejutkan.

Menurut Lula Kamal,mengungkapkan temuannya atas sejumlah wanita yang berusia 28 tahun sudah terkena keropos tulang. "Saya mendapatkan sejumlah pasien di rumah sakit terkena keropos tulang pada usia 28 tahun. Gejala ini patut diwaspadai karena selama ini ada anggapan bahwa keropos tulang terjadi pada manusia lanjut usia, khususnya wanita," ujar dokter Lula Kamal di Jakarta, pada acara di Medan belum lama ini.

Menurut dia, angka penderita keropos tulang pada usia dini memang belum ada di Indonesia. Demikian juga jumlah penderita keropos tulang pada lansia, di Indonesia belum ada. Sebagai rujukan, lanjutnya, di Amerika Serikat terdapat 10 juta penderita keropos tulang, terdiri dari 8 juta perempuan dan 2 juta laki-laki. Negara maju seperti Amerika Serikat, menurut dia, satu dari dua perempuan berusia di atas 50 tahun mengalami patah tulang yang berhubungan dengan keropos tulang. Satu dari empat laki-laki di Negeri Paman Sam itu, yang berusia di atas 50 tahun, mengalami patah tulang karena osteoporosis. Namun, lanjutnya penderita keropos tulang di Indonesia diduga meningkat setiap tahun karena pola makan di negara berkembang seperti Indonesia kurang mendapatkan perhatian khususnya makanan yang mengandung kalsium yang mampu membentuk tulang.

Osteoporosis adalah suatu penyakit dimana tulang menjadi rapuh dan menjadi mudah retak dan patah akibat massa tulang yang rendah. Keropos tulang, biasanya tidak menimbulkan gejaka dan proses pengurangan massa tulang berlangsung tanpa disadari.

Keropos tulang dapat diketahui, jika terjadi patah tulang karena jatuh, gerakan tiba-tiba, tarikan kuat, serta timbulnya rasa sakit yang hebat karena retak/patah tulang. Tulang yang paling sering mengalami patah adalah pergelangan tangan, tulang belakang, dan tulang pinggul. Ada seorang pasien diketahui menderita keropos tulang ketika melakukan pergerakan yang membuat tulang pinggulnya retak. Pasien yang baru berusia 28 tahun setelah diperiksa secara intensif di rumah sakit, ternyata tulangnya sudah seperti sarang tawon, keropos di dalam.

Faktor risiko keropos tulang, menurutnya, disebabkan oleh usia, perempuan proses penghancuran massa tulang menjadi lebih cepat setelah memasuki monopause, kurus atau rangka kecil, massa tulang yang rendah, riwayat keluarga, kekurangan hormon estrogren, kekurangan vitamin D, kadar hormon testosteron yang rendah pada laki-laki, kurang makanan kalsium, kurang berolahraga, perokok dan peminum. Jadi, lanjutnya selain usia di atas 50 tahun, ternyata usia produktifpun tidak tertutup kemungkinan mendapatkan serangan keropos tulang. Untuk mendapatkan pengecekan keropos tulang, lanjutnya, dapat dilakukan screening untuk mengetahui keadaan massa tulang. Kemudian, lanjutnya, dapat digunakan densitrometri untuk screening awal dan rontgen tulang di rumah sakit.

Menurut, Prof. Muhilal pakar gizi di Indonesia jumlah penderita keropos tulang di negara ini diperkirakan meningkat dari tahun ke tahun, karena pola makan kurang memperhatikan kecukupan kalsium dari kandungan makanan yang dikonsumsi. "Saya memang tidak punya angka pasti jumlah penderita keropos tulang di negeri ini. Namun, penderita keropos tulang di Indonesia diperkirakan meningkat setiap tahun," ujarnya.

Di negara maju seperti AS, lanjutnya, penderita keropos tulang sekitar 38% dari jumlah penduduk berusia 50 tahun ke atas. Malahan, tambahnya, angka penderita keropos tulang akhir-akhir ini meningkat menjadi 50% dari jumlah penduduk berusia 50 tahun ke atas. Dia perkirakan jumlah penderita keropos tulang di Indonesia cukup tinggi. Sejauh ini, kata ahli gizi itu, angka penderita keropos tulang di Indonesia belum ada. Departemen Kesehatan sendiri, lanjutnya, belum membuat perkiraan angka penderita penyakit yang menggerogoti batang tulang tersebut.

Lula Kamal sendiri mengakui di Indonesia sudah ada kasus keropos tulang ditemukan pada usia muda. Dirinya juga merawat sejumlah pasien keropos tulang berusia 28 tahun saat ini. Jadi, keropos tulang ternyata bukan hanya menyerang orang berusia lanjut. Karena peluang terserang keropos tulang di Indonesia jauh lebih tinggi, dimenganjurkan masyarakat mengantisipasi munculnya penyakit keropos tulang dengan mengonsumsi kalsium lebih banyak. Biaya untuk merawat penyakit keropos tulang, jauh lebih besar dibandingkan dengan penyakit jantung. Penyakit keropos tulang, jelasnya, gejalanya tidak disadari dan sulit dirasakan. Sedangkan penyakit jantung, lanjutnya, biasanya dimulai dengan tanda-tanda sesak atau sakit di dada, sehingga mudah dideteksi.

Risiko terserang penyakit tulang keropos lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan pria, karena sewaktu melahirkan perempuan lebih banyak mengeluarkan kalsium. Demikian juga ketika menyusui bayi, si ibu membagi kalsium dengan anaknya, sehingga tabungan kalsium dalam tubuh perempuan semakin berkurang. Setelah perempuan menopause, kemungkinan terserang keropos tulang jauh lebih tinggi. (to/bi/eramuslim)

Tags : Osteoporosis, Faktor Risiko Osteoporosis


setelah di baca, jangan lupa di share yah biar semua tau tentang informasinya...terimakasih!!


0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

Blog Ini Dofollow
Dilarang SPAM dan Menyisipkan Link Aktif di dalam komentar
Komentar yang tidak sesuai dengan isi postingan, tidak akan di publish!!

 
© Copyright 2010. yoedhasflyingdutchman . All rights reserved | yoedhasflyingdutchman is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com