Asuhan Keperawatan Pasien dengan Prilaku Kekerasan

| | 0 comments


Pengertian Perilaku Kekerasan

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995).

Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993).

Tanda dan Gejala :
  1. Muka merah
  2. Pandangan tajam
  3. Otot tegang
  4. Nada suara tinggi
  5. Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak
  6. Memukul jika tidak senang
Penyebab perilaku kekerasan

Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.

Frustasi, seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.

Hilangnya harga diri ; pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.

Tanda dan gejala :
  1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
  2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
  3. Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
  4. Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
  5. Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya. (Budiana Keliat, 1999)
Akibat dari Perilaku kekerasan

Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.

Tanda dan Gejala :
  • Memperlihatkan permusuhan
  • Mendekati orang lain dengan ancaman
  • Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
  • Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
  • Mempunyai rencana untuk melukai

Pengkajian 

a. Aspek biologis
  • Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat, tachikardi, muka merah, pupil melebar, pengeluaran urine meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku, dan refleks cepat. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.
b, Aspek emosional
  • Individu yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin memukul orang lain, mengamuk, bermusuhan dan sakit hati, menyalahkan dan menuntut.
c. Aspek intelektual
  • Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual, peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Perawat perlu mengkaji cara klien marah, mengidentifikasi penyebab kemarahan, bagaimana informasi diproses, diklarifikasi, dan diintegrasikan.
d. Aspek sosial
  • Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, menjauhkan diri dari orang lain, menolak mengikuti aturan.
e. Aspek spiritual
  • Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa.
Diagnosa Keperawatan

1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/ amuk.

a. Data subjektif
  • Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya.
b. Data objektif
  • Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang, melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.
2. Perilaku kekerasan / amuk dengan gangguan harga diri: harga diri rendah.

a. Data Subjektif :
  • Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
  • Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.
  • Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
b. Data Objektif
  • Mata merah, wajah agak merah.
  • Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
  • Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
  • Merusak dan melempar barang barang.
Intervensi Keperawatan

1. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/ amuk

Tujuan Umum :
  • Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya
Tujuan Khusus :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Tindakan :
  1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
  2. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
  3. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
  4. Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat.
  5. Beri rasa aman dan sikap empati.
  6. Lakukan kontak singkat tapi sering.
b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.

Tindakan :
  1. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
  2. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
  3. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.
c. Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.

Tindakan :
  1. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
  2. Observasi tanda perilaku kekerasan.
  3. Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
d. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

Tindakan:
  1. Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
  2. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
  3. Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai
e. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.

Tindakan:
  1. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
  2. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
  3. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
f. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

Tindakan :
  1. Tanyakan kepada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat
  2. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
  3. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.
  • Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
  • Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal/ tersinggung.
  • Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara – cara marah yang sehat, latihan asertif, latihan manajemen perilaku kekerasan.
  • Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.
g. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.

Tindakan:
  1. Bantu memilih cara yang paling tepat.
  2. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
  3. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
  4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
  5. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
h. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan

Tindakan :
  1. Identifikasi kemampuan keluarga merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga selama ini.
  2. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.
  3. Jelaskan cara – cara merawat klien
i. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).

Tindakan:
  1. Jelaskan jenis – jenis obat yang diminum klien pada klien dan keluarga.
  2. Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter.
  3. Jelaskan prinsip 5 benar minum obat (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
  4. Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
  5. Anjurkan klien melaporkan pada perawat / dokter jika merasakan efek yang tidak menyenangkan.
  6. Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.
2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah

a. Tujuan Umum :
  • Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
b. Tujuan khusus :
  • Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan :
  • Bina hubungan saling percaya,
  • Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.
  • Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
  • Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

Tindakan :
  • Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
  • Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif
  • Utamakan memberi pujian yang realistis.
3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.

Tindakan :
  • Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
  • Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.
4. Klien dapat menetapkan/ merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Tindakan :
  • Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan ( mandiri, bantuan sebagian, bantuan total ).
  • Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
  • Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuannya

Tindakan :
  • Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
  • Beri pujian atas keberhasilan klien.
  • Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

Tindakan :
  • Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
  • Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
  • Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
  • Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
Daftar Pustaka
  1. Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.). St.Louis Mosby Year Book, 1995
  2. Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
  3. Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
  4. Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo, 2003
  5. Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung, 2000


setelah di baca, jangan lupa di share yah biar semua tau tentang informasinya...terimakasih!!


0 comments:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Post a Comment

Blog Ini Dofollow
Dilarang SPAM dan Menyisipkan Link Aktif di dalam komentar
Komentar yang tidak sesuai dengan isi postingan, tidak akan di publish!!

 
© Copyright 2010. yoedhasflyingdutchman . All rights reserved | yoedhasflyingdutchman is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com